[Peer-Counselor] – Being more than a good listener

Halo teman-teman! Pernah nggak sih, teman-teman menghadapi suatu masalah? Rasanya, tidak ada orang yang luput dari masalah, ya! Nah, ketika aku menyebutkan kata “masalah”, apa yang pertama kali muncul di benak kalian? Mungkin saja, teman cerita adalah salah satunya. Tidak jarang, ketika kita menghadapi suatu masalah dalam hidup, yang kita butuhkan hanyalah seorang teman yang bersedia untuk meminjamkan bahunya untuk bersandar, dan telinganya untuk mendengarkan masalah kita. Bener apa bener nih?

Nah, ketika aku menyebutkan “teman cerita” di awal tadi, siapa yang paling pertama muncul di pikiran kalian? Sahabat, saudara, atau orang tua? Seringkali, ketika mendengarkan kata “teman cerita”, orang yang paling pertama terlintas di benak kita adalah teman terdekat. Mengapa demikian? Menurut penelitian yang pernah dilakukan oleh Salsabila, dkk (2020), kita lebih cenderung terbuka dan senang bercerita dengan teman sebaya kita karena mereka juga merasakan hal yang sama, dalam hal ini, mereka lebih bisa relate dengan keadaan kita dan menjadikan kita lebih gampang menemukan solusi atas permasalahan yang kita hadapi.

Dibandingkan bertemu dengan orang-orang profesional seperti guru, konselor, maupun psikolog, secara tidak langsung orang pertama yang kita reach out pertama kali ketika menghadapi situasi tertentu adalah teman. Oleh karena itu, peran teman sebaya dan lingkungan juga sangat berpengaruh bagi perkembangan pribadi kita (Hidayati, dkk, 2017).

Kamu pernah merasakan berada di posisi menjadi “teman” yang dicari ketika temanmu menghadapi suatu problem dalam hidupnya? Atau, dalam bahasa gaulnya, jadi tempat curhat! Atau, kamu malah sering menjadi telinga teman-teman di sekitarmu dan kerap dimintai saran atas permasalahan-permasalahan mereka, tetapi sering kali kamu juga merasa kebingungan akan cara yang tepat dalam menanggapi cerita mereka?

Tau nggak sih, ada istilah yang lebih keren bagi “mereka” yang sering jadi tempat curhat teman-temannya, yaitu “Peer-Counselor”. Widih, apa emang kita bisa min, jadi konselor tanpa sertifikasi dan semacamnya? Jawabannya, bisa dong! Seperti saat ini, tim BMA sedang mencari orang-orang seperti kalian, yang bersifat caring terhadap teman-teman sebaya dan berkapasitas untuk membantu teman-teman yang membutuhkan kalian di kampus.

Loh, caranya gimana min? Terus, aku dapat apa kalau join di tim peer counselor? Worry not! Kita punya banyak benefit buat kalian yang join di tim kita, loh! Kalian bakal dapat pelatihan dasar mengenai teknik konseling (yang biasanya hanya dilakukan oleh profesional lho), tidak hanya itu, kalian juga bakal dapat sertifikat sebagai seorang peer-counselor dong pastinya. Selama mengemban tugas juga, kalian jadi bisa kenalan dengan banyak teman-teman lain, baik itu yang membutuhkan bantuan kalian, maupun sesama peer-counselor. Intinya, networking, networking, and more networking! Kalau urusan KP, nggak perlu disebutin lagi sih ya? Kalian juga pasti akan mendapat KP yang sesuai.

Untuk syarat-syarat dan cara mendaftar di tim Peer Counselor BMA sudah tertera di barcode yang bisa di scan pada poster maupun di link berikut ini: bit.ly/PeerCounselorUCS

Jangan lupa buat daftar ya, UC People! Kami tunggu sampai Kamis, 19 Mei 2022. See you on board, fellow counselors!

Penulis: Inggrid Devyana Chandra

Referensi:

Hidayati, N. O., Lukman, M., Sriati, A., Widianti, E., & Agustina, H. S. (2017). Pembentukan konselor teman sebaya dalam upaya preventif perilaku kekerasan pada remaja SMP Negeri 1 Pangandaran. Dharmakarya: Jurnal Aplikasi Ipteks untuk Masyarakat, 6(2), 125-128.

Salsabila., Wiryantara, J., Salsabila, N., & Alhad, N. A. (2020). The role of peer counseling on mental health. BISMA The Journal of Counseling, 4(3), 242-253.