Persiapan UKM Choir dalam Meningkatkan Prestasi

UC Choir adalah UKM paduan suara kebanggaan Universitas Ciputra yang telah beberapa kali mengikuti beberapa kompetisi dan meraih prestasi seperti mengadakan Konser Pra Kompetisi BCF 2019 bersama Sparkling Singers Credo, meraih Gold Medal dalam ajang Brawijaya Choir Festival tingkat Nasional di Universitas Brawijaya Malang tahun 2019. Di tahun ini UC Choir juga berusaha meningkatkan prestasi mereka dengan mengikuti beberapa kompetisi, salah satunya lomba paduan suara pada Mei 2021 nanti. Tim multimedia BMA berkesempatan mewawancarai UKM Choir UC yang dibimbing oleh Kak Yosafat Rannu Leppong sebagai Music Director, beranggotakan Reza Pahlevi yang juga menjabat sebagai Ketua Umum, Lieshell (Sopran), Grace / Elizabeth Anderson (Alto), Maccrea Valerio (Bass), Tisha (Sopran), Virginia (Sopran) dan Natanael Vincent (Tenor). Penasaran seperti apa sih persiapan mereka?
BMA: Choir ini aktif banget meskipun dalam masa pandemi. Apasih yang bikin temen-temen UKM Choir tetap aktif dimasa pandemi?
Pahlevi: Kalo dari aku pribadi kenapa kok di masa pandemi ini malah lebih aktif, karena aku gamau hanya karena online UKM Choir jadinya malah terhambat untuk berkarya. Dan justru karena udah online dan jadwal tidak terlalu banyak, kita bisa lebih maksimalkan. Apapun halangannya kami hadapi dan berusaha untuk tetap produktif.
BMA: Gimana sih perasaannya menjabat menjadi ketua UKM Choir selama satu tahun dalam kondisi online?
Pahlevi: Ada sisi baik dan ada sisi buruknya sih. Sisi buruknya adalah harus puter otak untuk membuat proker, fundraising juga jadi terhalang, kayak bikin bazaar offline kan gak mungkin, ngumpulin temen-temen biar spiritnya sama juga susah. Kalo sisi baiknya karena ini pertama kalinya online semua orang juga kaget gak semuanya siap dengan perpindahan offline ke onnline, ini jadi kelebihan buat start lebih awal mengikuti kompetisi, trial dan error. Ada banyak kegiatan yang aku juga bisa eksplor lagi, juga memberikan wadah untuk temen-temen buat belajar hal baru.
BMA: Director UC Choir pastinya merasakan perubahan drastis dari offline ke online dalam masa pandemi, gimana sih perasaannya? apakah ada kesulitan?
Kak Yosafat: Awalnya berjibaku dengan latihan online itu stress, ngajarin secara teknik jadi susah banget, ngajarin notasi yang biasanya face-to-face, nyontohin dan ngasi ilustrasi yang sebelumnya gampang begitu online jadi susah, presentasi musiknya pun yang biasanya secara live akhirnya tidak bisa. Cuma mau gamau kita harus bersahabat dnegan teknologi dan era digital, yang dulunya benci sekali dengan audio editing make-up audio segala macem, in the end harus belajar bersentuhan dengan hal seperti ini. Tapi apakah itu bakal bikin kita berhenti berkarya? Pastinya engga. Jangan sampai kondisi kita menghilangkan spirit kita untuk berkarya, ada hal-hal baru yang kita pelajari dan kita kemas.
BMA: Selama latihan di UKM choir, ada gak sih yang bikin jengkel?
Kak Yosafat: Hal yang paling membuat jengkel adalah ketika ngumpulin audionya telat-telat atau dikasi PR gak dikerjain, ada juga yang rekaman salah-salah melulu. Saya dapat back up sih, ada temen-temen pengurus yang bantu ngejar siapa yang belum ngumpulin. Tetapi memang perlu penyesuaian ya, anak-anak choir saya yakin sudah berusaha sebaik mungkin. Sebenernya juga ada autotune, tapi saya ngajarin untuk jangan sampe ketergantungan dengan autotune, jadi tetep harus dikejar untuk diperbaiki.
BMA: Persiapan latihan lomba biasanya hari apa aja?
Virji: Latihan rutin biasanya hari kamis dan sabtu, tetapi kalau ada latihan sectional biasanya hari rabu, tetapi untuk latihan sectional gak semuanya latihan tergantung suara apa aja yang butuh latihan.
BMA: Untuk latihan sectional berarti per suara ya? Memangnya di Choir ada suara apa aja sih kak?
Virji: Kalo buat cewek ada sopran dan alto, kalo untuk cowok ada tenor & bass.
BMA: Berarti kalian hectic banget ya, udah dari kapan sih latihannya?
Grace: Mulai latihan sekitar bulan Februari.
BMA: Kalau gitu sekarang progressnya dah sampa mana?
Maccrea: Kalau progress sendiri, udah masuk ke tahap rekaman, setelah ini masuk fase editing.
BMA: Apasih tantangan terberat dalam persiapan lomba ini?
Tisha: Saat ngerekam karena sendirian, jadi ngerasa gak selesai-selesai, pengen ngulang terus kalo gak pas gitu.
Vincent: Kadang struggle di masalah menyisihkan waktu, lalu juga butuh niat yang lebih ekstra.
Lieshell: Kalo online susahnya tuh memastikan udah bener gak ya tekniknya udah nyampe gak ya, lalu juga saat record misalnya ada take satu lalu aku dengerin cocok gak nih sama musiknya, kalo gak cocok perlu ngulang lagi, jadi bener-bener perlu lebih peka. Kalo offline kan dibantu diarahin dari nafasnya teknik atau rahangnya kurang ngebuka, nah kalo online kayak harus lebih peka dan tau salahnya dimana.
BMA: Choir kan udah dua lomba untuk kedua kalinya di periode ini, boleh cerita dong alasannya ikut lomba ini dan ceritain secara singkat tentang lomba ini.
Pahlevi: Benar. Sebelumnya kita udah mengikuti lomba Pesparawi, Pesta Paduan Suara Gerejawi yang diadakan DIKTI. Nah untuk yang dalam waktu dekat kita ikuti ini namanya MVCF, Maranatha Virtual Choir Festival. Pertimbangan kenapa ikut lomba ini yang pertama karena lomba virtual ini lumayan susah karena memang yang mengadakan sedikit dan kenapa mengikuti MVCF karena diadakan di bulan Mei jadi cukup waktu untuk latihan. Yang kedua, jumlah lagunya hanya satu jadi tidak terlalu berat untuk mempelajarinya, dan yang ketiga karena ini kompetisi nasional, karena online jadi biayanya tidak terlalu besar lalu juga kita memang sengaja untuk memperbanyak kompetisi virtual agar nanti kalo ikut kompetisi virtual lagi kita gak bener-bener ngulang dari nol.
BMA: Tisha dan Grace berarti kalian pertama kalinya ya ikut kompetisi virtual. Gimana sih perasaan kalian ikut lomba ini?
Iya baru pertama. Jadi lebih semangat untuk latian karena untuk persiapan lomba. Capek sih tapi tetep enjoy latian terutama kalo latian sectional karena orangnya lebih sedikit jadi lebih nyaman.
BMA: Apa harapannya untuk menghadapi lomba ini?
Lieshel: Makin bonding dan bisa meraih juara untuk kali ini setidaknya gold medal lah hehehe.
Maccrea: Harapannya tentu menang,dan biar semakin erat kekeluargaannya biar meskipun terpisah jarak tapi hatinya gak kepisah.
Virgi: Harapanku untuk UC Choir bukan cuma menang aja si tapi kita bisa keluar negeri juga bisa have fun bareng, terus kayak kita bisa bikin perkumpulan untuk alumni UCChoir.
Vincent: Smeoga kita semua bisa memberikan yang terbaik dan maksimal, meskipun semuanya serba online jangan sampai nilai kekeluargaan di UKM ini hilang.
Kak Yosafat: Kompetisi sebagai ajang evaluasi dan belajar soal komitmen, agar kita bisa ngukur udah sejauh apa sih entah dari level atau usaha yang sudah dikeluarkan, semua proses yang terjadi didalamnya. Baik offline dan online semua kompetensi pasti punya hal-hal yang bisa dipelajari, soal komitmen, disiplin, bonding, bukan cuma teknik tapi kita juga belajar soal sosial skill. Kita bisa memberika performance terbaik.
Pahlevi: Kompetisi ini sebagai batu loncatan dan proses evaluasi khususnya karena ini kompetisi virtual, ini masih hal yang baru jadi banyak yang bisa dipelajari, entah itu editing atau teknik suara.